RSS

Top Artikel Seliante's:

Cari Blog Ini

Pantai Batu Gong, Wisata Teluk di Kendari Indonesia

Senin, 21 Maret 2011. 
Indonesia ternyata memiliki banyak pantai indah. Pantai yang bentuknya landai dan berpasir putih. Kendari, kota provinsi Sulawesi Tenggara, misalnya, juga memiliki sejumlah pantai wisata yang menarik dan pantas dibanggakan. Salah satu di antaranya adalah Pantai Batu Gong.

Bagi masyarakat Kendari, Pantai Batu Gong memang telah menjadi alternatif utama untuk mendapatkan lokasi rekreasi murah meriah. Karenanya, tak aneh jika pada musim liburan panjang, pantai ini tak pernah putus dikunjungi wisatawan domestik.
Sedangkan pada hari libur biasa, pantai ini telah menjadi buruan utama masyarakat kota Kendari untuk ajang rekreasi keluarga.

Dibilang menarik dan pantas dibanggakan, karena jika Anda mengunjungi sebuah teluk yang ada di ujung pantai berpasir putih ini, Anda akan mendengarkan adanya suara-suara khas menyerupai suara gong yang ditabuh orang.

Suara gong itu sebenarnya bukan dihasilkan dari sebuah gong yang dipukul orang, melainkan dari hempasan deburan ombak ke dinding sebuah tebing di pantai. Hempasan deburan ombak itulah yang kemudian menghasilkan suara mirip gong. Untuk mencapai pantai yang terletak di Desa Lalonggaluku Kecamatan Sampara, ini memang tidak sulit. Itu karena banyaknya sarana transportasi darat yang bisa digunakan masyarakat kota Kendari.

Perjalanan yang dapat ditempuh 40-50 menit dengan kecepatan rata-rata 70-80 kilometer/jam kendaraan pribadi. Sedangkan jika menggunakan kendaraan carteran, sewanya mencapai Rp60.000. sumber: inilah.com

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Bermain dengan Hiu di Payar Island, Malaysia

Senin, 21 Maret 2011. 
Sekelompok remaja berusia belasan tahun berbaur dengan sejumlah orang dewasa asyik bermain–main di tepi pantai sambil sesekali menjerit. Sementara sejumlah orang lainnya dengan asyik melemparkan potongan roti ke dekat kerumunan di pinggir tepi pantai itu, membuat ”permainan” jadi lebih mengasyikkan.

Mereka pantas asyik dan juga menjerit karena permainan yang mereka lakukan mungkin tidak biasa. Di sekeliling kaki mereka ada ikan–ikan hiu berseliweran, seolah menikmati juga permainan itu. Sesekali ikan yang terkenal karena keganasannya itu meloncat ke permukaan, memperebutkan potongan roti yang dilempar ke arah mereka. Barisan gigi yang tajam sesekali terlihat ketika mereka muncul ke permukaan melahap potongan roti yang masih mengapung.

Jika pada awalnya banyak orang di tepi pantai itu agak takut–takut mengingat cukup banyak film menggambarkan keganasan hiu, lambat laut keberanian mereka pun tumbuh. Sejumlah orang, termasuk saya, malah jadi asyik berusaha menangkap bagian belakang ikan bertanda garis hitam pada sirip punggungnya itu. Namun, hiu yang panjangnya sekitar 80–100 cm itu nyatalah ikan yang sangat gesit menghindar. Hujan yang turun terkadang rintik, terkadang agak deras, sepanjang hari tidak menghambat aktivitas wisatawan bermain di sekitar Taman Laut Pulau Payar.

Taman laut yang berada satu jam perjalanan dengan kapal cepat katamaran dari Pulau Langkawi itu memang menyajikan berbagai keindahan pantai dan kekayaan alam bawah laut. Aktivitas laut, seperti snorkeling dan diving, tentu saja bagian tak terpisahkan dari pulau itu dan semuanya disajikan dengan berbagai kemudahan, termasuk penyediaan makan siang, berbagai minuman dan makanan ringan.

Permainan bersama hiu dan memberi makan hiu itu memang salah satu keistimewaan tersendiri di Pulau Payar, yang merupakan bagian tak terpisahkan dari pariwisata Langkawi. Pulau Langkawi, yang berada di dekat perbatasan Malaysia dengan Thailand itu, kini semakin diandalkan sebagai primadona pariwisata Malaysia dan diharapkan menjadi ”alternatif” lain atau pilihan setelah Bali. Hal itu bisa dibaca dari adanya penerbangan langsung dari Bali ke Langkawi dan dari berbagai tempat lain langsung ke Langkawi.

Pemerintah Malaysia memang sangat serius menjual potensi pariwisatanya, khususnya Langkawi, sebagai andalan mereka. Gugusan pulau dengan pulau utama sekaligus terbesar bernama Langkawi itu sejak awal disiapkan menjadi pulau wisata. Semua yang dijual di pulau ini serba bebas pajak sehingga memang relatif lebih murah dibandingkan dengan di Singapura, Kuala Lumpur, atau Bangkok.

Pemerintah Malaysia juga menggali habis–habisan seluruh potensi keaslian alam pulau ini sehingga berbagai bentuk keragaman alam dan lingkungan Langkawi menjadi andalan untuk mendatangkan wisatawan. Air terjun, telaga, gua dengan stalagmit dan stalaktit, serta rumah– rumah tradisional dijadikan andalan bersama fasilitas wisata modern yang khusus dibangun di pulau itu, seperti Underwater World (semacam Sea World di Ancol), tempat penangkaran buaya, pusat pertokoan, dan restoran yang umumnya menyajikan makanan laut, masakan china, dan makanan India. Kendaraan roda dua atau roda empat untuk disewa pun banyak tersedia.

Sayangnya, sisi kebudayaan dan atraksi kesenian khas memang kurang terlihat di Langkawi sehingga jika dibandingkan dengan Bali, tempat wisata andalan Indonesia itu masih jauh lebih unggul dalam berbagai hal.

Meski memiliki sejumlah kekurangan dan berbagai fasilitas di Langkawi masih terus dalam proses pembangunan, banyaknya wisatawan yang datang ke pulau itu adalah bukti keseriusan Malaysia menjual modal kekayaan pariwisatanya. Pengiklanan yang gencar di media internasional juga ditunjang berbagai kesiapan pelayanan di lapangan.

Bagi kita di Indonesia yang memiliki lebih banyak kekayaan pariwisata, aspek pengiklanan dan pelayanan yang maksimal itulah yang agaknya masih kurang. Seandainya semua kekurangan kita itu segera diperbaiki, ditambah situasi keamanan yang lebih terjamin dan kondusif, Indonesia bisa memiliki puluhan Langkawi dan bahkan dua atau tiga Bali. sumber: Perempuan.com

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Cebu, Bali-nya Filipina

Senin, 21 Maret 2011.   
Gawe akbar se Asia Pasifik bertajuk Sub Regional Youth Summit mengundang niatan untuk mengikuti seleksi di PMI Daerah Jateng. Seleksi ketat bersama peserta yang aku angkat topi betul membuat keder, surprise-surprise . Akhirnya aku terpilih. Ini kali pertama aku keluar negeri, masih culun sekali. Sembilan belas tahun! Sepuluh tahun kemudian, ingatan itu masih lekat dalam neuron berwarna abu-abu di kepalaku. Pak Sartoto, Mas Lucky, Pak Nasrun, Bu Yayuk, Bu Sharlita dan beberapa crew PMI SMA 2 Semarang sampai tingkat pusat membantu persiapan keberangkatan. Langkah gontai menggotong koper bapakku Setyadji Pantjawidjaja yang sudah tak baru. Aku terharu, orang tuaku waktu itu berlinang airmata melepas kepergianku yang tak lama, hanya dua minggu.

Untung aku tak sendiri, karena Khong Khong terbang bersamaku dari Jakarta kesana. Jadilah perjalananku tak jemu-jemu. Aku ditransfer burung besi dari Manila airport ke Cebu. Setiba di kota yang ditemukan Ferdinand Magellan ini, aku termangu. Ramai dan banyak bangunan tua menyapa disana-sini. Di Decs Ecotech Center tempat hunianku, telah hadir duta putra-putri dari Malaysia, China, Korea, Hongkong, Thailand, Laos, Myanmar, Australia, Jepang, Singapura, Vietnam, dan Filipina sebagai tuan rumah.

Aku gelengkan kepala, banyak benar orang yang berbaju putih. Oh, rupanya mereka ini adalah siswa sekolah perawat dan kedokteran yang mengikuti beberapa bagian dalam summit IFRCRCS ini. Mabuhay! Tersiar kabar pula bahwa negeri asal Maribeth ini banyak mengirim TKW perawat keluar negeri. Ah, jadi ingat istri Uncle JC yang pernah jadi perawat di Amrik.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...